
kami adalah orang-orang pinggiran…
menggelandang di pinggiran jalan kehidupan yang dikelilingi tembok-tembok kemampanan…
memaknai keberadaan dalam ketiadaan…
menengguk suka duka dengan keikhlasan hingga menghangatkan jiwa…
kelamnya keadaan telah menyeret kami kedalam laknatnya comberan kotoran realita…
dimana hak kami sebagai buruh pabrik dan pekerja rumah tangga menguap hilang dalam kenyataan…
berganti bau busuk terasi konsnfirasi parodi-parodi mutualisme tirani dan kapitalis yang bersembunyi dibalik ketidak berpihakan Undang Undang tenaga kerja republk ini…
haruskah kami berdiam diri
membisu dan menutup mata atas panindasan yang terjadi…
atau mungkinkah kami harus mati ketika memperjuangkan hak kami
layak nya marsinah yang hilang tertikam gulita katidakadilan hukum di negeri ini
diantara kebisuan realita, kami bertanya…
berteriak layaknya serigala yang menentang kegelapan malam…
dalam resah kami berkeluh kesah…
dalam ketidakpastian masih kami perjuangkan kehidupan…
sepinya waktu kala sendiri…
Sambil berbaring meraih mimpi…
Menatap langit…
langit tak peduli….
Sebab esok pagi kembali…
Orang orang pnggiran akan selalu berputar dalam lingkaran…
Terjebak di semunya labirin kehidupan hingga terhempas kembali ke pinggiran...
dimana kehidupan terlukisan dalam goresan tinta- tinta kehampaan...
terpenjara oleh peraturan peraturan endapan teori teori picisan para pendukung kapitalisme dan penanam modal...
Ketika dingin menyelimuti raga ini
Kami mencoba untuk terlelap dalam gelap mendekap satu harap akan sbuah mimpi yg tak pernah didapat…
jasad pun membusuk digerogoti belatung-belatung waktu...
dimana realita keadaan hanyalah bualan dan perspektif-perspektif kebenaran adalah nama yang tertulis diatas batu nisan kehidupan...
kesabaran telah menjadi monumen kehidupan kami...
dimana penindasan dan ketidak adilan adalah keseharian...
dengan jiwa MADILOG tan malaka
hingga rentetan canon sajak-sajak wiji tukul dan ws rendra
kami orang-orang pinggiran akan terus melaju memerangi penghianatan kemajuan jaman...
tak akan mundur terdiam walaupun tertindas tirani majoritas dan terancam cengkraman cakar pasar bebas...
sepinya waktu kala sendiri…
Sambil berbaring meraih mimpi…
Menatap langit…
langit tak peduli….
Sebab esok pagi kembali…


Tidak ada komentar:
Posting Komentar