Senin, 04 Agustus 2014
HOME SWEET HOME
“I’m on my way… I’m on my way.. home sweet home” (motley crue)
Minggu malam di penghujung November, hawa dingin nya masih setia mendekap tubuh ini. Sudah hampir seperempat jam saya menghabiskan waktu di salah satu halte menunggu angkutan untuk pulang ke rumah. Jam sudah menunjukan pukul dua pagi dimana sebagian besar orang mungkin telah terlelap nyaman dirumahnya masing masing. pandangan saya pun tertuju pada seorang bapa disebrang saya yang Nampak tertidur nyaman di depan sebuah toko yang sudah tutup.
Mungkin bagi sang bapa, kota ini adalah rumahnya, dan setiap sudut yang ada adalah ruang istirahat untuk merebahkan diri dan mendekap mimpi setelah seharian bergelut dengan sombongnya hari. Memang tak ada lagi tempat yang lebih indah selain rumah untuk kita kembali setelah kita lelah berkurusetra dengan keseharian.
Apabila ini adalah tulisan terakhir yang bisa saya tulis, saya pun hanya ingin berada di rumah menikmati setiap sudut nya yang Nampak muram termakan jaman, catnya yang kusam, hiasan jaring laba laba di beberapa pojokan dan noda noda bekas rembesan air di lelangitannya hasil dari memory hujan bulan November yang beberapa hari terakhir rutin datang menyapa. Seburuk apapun rupanya, rumah tetaplah sebuah tempat tinggal yang indah dengan kenyamanan serta kenangan yang dimilikinya.
Sebuah istilah menyebutkan “Rumahku adalah istanaku”, tempat tinggal dimana kita bertahta dari setiap mimpi yang kita punya, serta berkuasa akan setiap jengkal cita cita kehidupan yang kita jalani. Rumah tempat kita tumbuh dan belajar mendapatkan bekal disaat kita memutuskan membuka pintu untuk pergi melangkah mencari berbagai pelajaran yang lebih luas dan lebih besar di dunia luar.
Rumah pula lah tempat kita berpulang, tempat kita merebahkan diri dalam lelap atupun berkeluh kesah ketika dunia luar Nampak tak bersahabat dan terlalu sombong hingga membully kita dalam berjutaan kenyataan yang menghempaskan semua cita cita yang pada awalny kita bawa penuh harap ketika pergi meninggalkan rumah.
Kita juga mengenal istilah “Broken Home” dimana rumah dapat berubah menjadi sebuah tragedy ketika setiap bagian serta penghuni di dalam nya tak lagi berfungsi serta saling peduli. Rumah tak lagi menawarkan kenyamanan untuk sekedar beristarahat dan terlelap, tak lagi aman untuk berkeluh kesah karena semua yang ada hanya hadir dalam resah. Disaat seperti ini Rumah pun menjadi kambing hitam dari semua permasalahan, dijustifikasi, di caci maki dan menelantarkan semua yang ada didalmnya karena para penghuninya tak dapat lagi saling mempercayai.
Kembali kepada bapa yang sedang berbaring di sebrang jalan tadi, apabila kota ini adalah rumahnya, mudah mudahan dia tidak sedang menjadi korban “broken home” dari kota yang menjadi rumahnya. Angkutan yang saya tunggu telah tiba, waktunya untuk pulang sampai jumpa di tulisan selanjutnya.
(GI’13)
WAKTU, TEMAN, DIARY DAN SEBUAH PAMERAN (Sebuah Pengantar Menuju “My Diary My Country”)
its 2014 and its been awhile dari postingan saya terakhir di september 2011 lalu. dan sekarang tepat pukul delapan malam, empat jam menjelang ultah saya di tahun ini, ada sedikit kerinduan dengan blog ini, sebuah nostalgia yang tidak hanya menghadirkan sebuah kisah yang berjarak dalam masa lalu, tapi juga membangkitkan sebuah restorasi untuk masa depan untuk mengaktifkan kembali blogs ini.. ok nuff said saya mau posting salah satu tulisan saya yang merupakan sebuah pengantar pameran foto temen saya Bayu ramdhan apriana yang bertajuk “My Diary My Country” pada 18-19 pebuarri 2012 lalu.. so here it is for you guys enjoy...
WAKTU, TEMAN, DIARY DAN SEBUAH PAMERAN
(Sebuah Pengantar Menuju “My Diary My Country”)
Tahun 2006 lalu ketika saya berkunjung ke PENSI salah satu sekolah di cianjur, waktu itu ada satu band yang sedang perform, dan perhatian saya pun langsung tertuju pada tingkah sang vokalis yang begitu atraktif modar-mandir diatas panggung dan sesekali ketika jeda lagu, selalu melontarkan kata-kata yang cukup expresif, pluss dengan dandanannya yang menurut saya cukup expressif juga (setelan jas coklat sedikit gombrong pluss dasi kupu-kupu dan celana agak ketat).
Berselang dua tahun setelah itu saya lama tak melihat sang vokalis expresif tersebut, namun waktu terkadang menjadi hal yang aneh dalam hidup ini dimana dalam keteraturan putarannya yang boleh dibilang angkuh karena terus melaju dan tak pernah mau menunggu, sang waktu selalu mempertemukan kita dengan berbagai orang serta beragam kejadian yang baru. Termasuk bagaimana caranya saya pun tak tahu, hingga dapat dipertemukan kembali dengan sang vokalis ekspresif yang saya liat di pensi dua tahun lalu itu, dan sekali lagi dengan andil sang waktu pula saya berkesempatan untuk mengobrol panjang dengan dia.
Dari pertemuan itu saya mengenal bahwa sang pemuda expressif itu bernama bayu atau lebih dikenal dengan bayu oonk, dia becerita bahwa saat itu setelah lulus SMA dia sedang akan mengikuti workshop photografi, kelas pagi nya Anton Ismail. Setelah lama kami bertukar cerita dan mimpi, terakhir dia berkata pada saya kalo dia suatu saat akan balik ke cianjur bertemu kembali dengan saya, bikin banyak project bareng dan ingin membuat sebuah pameran foto.
Waktu juga mungkin bisa disebut sebagai bukti dari sebuah janji, karena empat tahun selepas obrolan saya dengan bayu pada sore itu, bayu yang kini telah kembali menetap di cianjur dan telah beberapa kali terlibat project bareng saya, seperti biasa beberapa hari lalu out of nowhere menghubungi saya, memberi tahu bahwa dia akan melangsungkan pameran pada tanggal 18 febuari 2011, dan meminta saya untuk memberikan sedikit tulisan pembukaan untuk pamerannya . Seingat saya ini janji dia di sore itu yang kini dia akan coba penuhi seiring waktu yang berlalu.
Bayu ramdhan apriana atau lebih dikenal dengan bayu oonk, seorang pemuda ekspresif asal cianjur yang lahir pada 18 april dua puluh tiga tahun silam ini, bagi saya selalu come out from nowhere but always everywhere. Seperti hantu yang entah datang dari mana tapi kehadirannya khususnya dikalangan anak muda cianjur selalu terasa baik itu lewat karya music, foto, serta video yang dia buat ataupun sapaan akrabnya di beberapa tempat hang out di cianjur (karena dia juga seorang MC). bayu yang sejak akhir tahun 2009 lalu kembali ke cianjur, setelah lebih dari dua tahun berkelana di ibu kota dan mengikuti beberapa pameran diantaranya;
- Pameran Photography "Cross Culture" at studio 3rd eye jkt-2007
- Pameran Photography dan instalasi "Balada Joni dan Susi" at basement majalah tempo jkt-2008
- Pameran Photography "Thousand Reason" at museum bank mandiri jkt 2009
- Pameran Photography "Meet Me in Bathroom" at toilet 3rd eye studio jkt-2009
Serta terlibat dalam beberapa pengerjaan video klip antara lain;
- Art Director video clip Bondan fade to black "unity"
- Art Director video clip Dewi sandra "aku baik-baik saja"
- Ast Director video clip slank "i miss you but a hate you" (english version)
- Director video clip My Fucking Project "lolita"
- Director video clip Dead by homosexsuals "hope against loser'
- Director video clip Afterisya "amnesia sejenak"
Kini lewat pameran fotonya yang akan berlangsung pada tanggal 18-19 pebuarri 2012 di bekas gedung DPRD cianjur bertajuk “My Diary My Country” coba menampilkan berbagai foto yang dia ambil dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir yang merupakan diary dari apa yang dia alami, lakukan dan lalui dalam kehidupannya. Disini kita bisa lihat kenapa dia selalu saya anggap ekspresif and come out of nowhere but always everywhere. Melalui karyamya yang bersikap natural dan apa adanya dia selalu mencoba mengabadikan hampir semua hal yang dekat dengan keseharian; mulai dari foto sepinya sudut kota cianjur di malam hari hingga hectic nya suasana kesibukan pasar induk cianjur di pagi hari, dari foto petani tua di pematang sawah hingga model cantik di studio. Semua foto itu dia ambil dengan menggunakan berbagai kamera, mulai dari SLR, Analog, lomo, digital camera, camera laptop hingga kamera telephone genggam. Mungkin bayu ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa kamera hanyalah sebuah media, dan setiap orang selalu ingin menyampaikan sesuatu atas apa yang dia lihat lakukan dan lalui dalam kehidupan. Foto adalah salah satu bentuk penyampain tersebut dan medianya bisa dilakukan dengan kamera apa saja.
Dari foto-foto bayu di pameran ini satu hal yang dapat saya tangkap secara pribadi bahwa setiap detik dan setiap hal yang kita lalui dalam kehidupan, selalu menyimpan cerita akan keseharian, keindahan, bahagia kesedihan atau apa pun itu yang bila kita abadikan dalam sebuah foto dapat kita sapa kembali dalam berjuta kenangan di masa yang akan datang. Good luck for the exhibition my bro Bayu Ramdhan Apriana… dan untuk kawan kawan yang masih penasaran dengan karya karya Bayu, just come n enjoy the exhibition “My Diary My Country”.
(GI’12)
Langganan:
Postingan (Atom)



