
kemarin setelah istirahat makan siang seperti biasa, secara tidak sengaja saya terjebak diantara obrolan dua orang teman kantor yang lumayan cukup menarik bagi seorang bujangan out of date yang belum berkeluarga seperti saya hehe..
Kedua teman kerja ini Nampak begitu sengit beradu argument tentang pendidikan dan masa depan buah hati mereka yang masih kecil. Teman kerja yang pertama begitu yakin bahwa masa depan anaknya akan cerah dan ideal apabila semenjak dini dia sudah menkonsentrasikan anaknya di bidang pendidikan formal dan menjuruskannya ke pendidikan tinggi yang ada ikatan dinasnya dan menjamin jadi pegawai negeri, “pokona anak saya mah ku saya erek diawasi terus sakola na di push supaya engke bisa neruskeun pendidikan geus sma di sakola nu aya ikatan dinas jeung bisa ngajamin bisa gawe jadi pagawe negeri ameh tenang”. Begitu kira – kira kutipan obrolan dari teman yang pertama. Teman yang kedua punya pandangan berbeda dengan teman saya yang pertama, dia tidak begitu percaya dengan pendidikan formal dan dia tidak berminat untuk menyekolahkan anaknya hingga pendidikan tinggi, menurut dia sampai masuk sekolah menengah kejuruan saja anaknya sudah cukup karena dia lebih percaya pendidikan dari sebuah pengalaman kehidupan daripada pendidikan formal. “akh saya mah teu kitu, anak saya mah moal dititah sakola luhur-luhur cukup asup SMK , keun we jang pagawean mah sina diajar tina pangalaman soalna ayeuna mah loba sarjana ngangur, saya oge bisa gawe modal tina pangalaman lain ti sakola anu luhur.” Begitu argument dari teman saya yang kedua.
Menyimak obrolan kedua teman tadi, membuat saya berpikir-pikir bagaimana bila punya anak nanti, rencana seperti apa yang saya siapkan serta pendidikan seperti apa yang akan diberikan. Memikirkan hal ini mengingatkan saya akan sebuah cerita yang waktu masa kuliah dulu tidak sengaja saya dengar di salah satu station radio. Ceritanya mengisahkan tentang seekor anak burung yang masih bayi terjatuh dari sarang diatas pohon ketika sang induk sedang mencari makan. Secara tidak sengaja anak burung yang jatuh ketanah ini ditemukan oleh seekor induk ayam, yang kemudian memungutnya dan membesarkan anak burung tersebut layaknya seekor anak ayam. Waktu pun berlalu dan anak burung yang terjatuh itu pun tak pernah bertemu induknya, disaat sodara –sodaranya yang lain telah tumbuh berkembang mengepakan sayap untuk terbang tinggi sebagai burung, dia yang dibesarkan oleh seekor induk ayam tumbuh berkembang layaknya seekor ayam yang setiap harinya berjalan dan mematuk untuk mencari makan, tanpa mampu mengepakan sayapnya untuk terbang tinggi sesuai jati dirinya sebagai burung. Dan si anak burung ini pun akhirnya mati sebagai ayam yang hanya bisa berjalan dan mematuk untuk mencari makan.
Dari kisah ini kita dapat belajar bahwa sebenarnya kita tidak tahu kemampuan apa yang anak kita miliki dan akan jadi apa anak kita nanti, bisa saja anak kita itu adalah seorang diplomat yang terlahir dengan ayah yang pegawai negeri atau mungkin juga anak kita itu seorang seniman yang terlahir dari ayah yang seorang dokter. Setiap anak terlahir dengan bakat dan jati dirinya masing – masing yang terkadang beda dengan kita sebagai oarng tuanya, karena anak adalah sebuah titipan dari sang pencipta, kita sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik dan membesarkannya tapi bukan untuk menjadikannya apa yang kita inginkan dan cita –citakan melainkan mendidik dan membesarkanya untuk kita bimbing menciptakan dunia yang sesuai dengan potensi yang ada di dalam dirinya. Jangan sampai anak kita itu menjadi seekor anak burung yang tidak bisa terbang dan hidup sebagai ayam karena tumbuh besar di keluarga ayam, biarlah dia menetukan pilihan dalam hidupnya untuk menjadi apa sesuai dengan yang dia miliki di dalam dirinya, karena hidup adalah sebuah pilihan bukan? memang dalam hidup ini ada pilihan yg telah di tentukan seperti kelahiran, jodoh dan kematian tapi dlm itu semua kita juga diberikan pilihan untuk menentukan cara bagaimana menjalaninya.
Jadi mungkin nanti saya akan memebesarkan anak sdengan membimbingnya untuk menciptakan kehidupan yang ideal sesuai dengan jati diri dan potensi yang dia miliki, baik melalui pendidikan formal ataupun belajar melalui pengalamannya.
karena ketika kita mencintai satu hal dalam hidup kita, maka kita meyakini hal itu baik dan benar bagi kita. Namun itu tidak berarti bahwa yang baik dan benar
untuk kita juga selalu baik dan benar untuk orang lain yang punya riwayat-hidup yang lain, dengan watak-watak yang lain, dan dengan kesulitan atau masalah pribadi mereka yang lain pula dari kita. walaupun itu anak kita sendiri.
(GI'11)